Selasa, 26 Februari 2008

Kebangkitan Nasional

KEBANGKITAN NASIONAL SEBUAH SEREMONIAL YANG KEHILANGAN MAKNA

Beberapa hari yang lalu mungkin di antara kita masih teringat akan sebuah acara di salah satu stasiun televisi yang menayangkan peringatan hari Kebangkitan Nasional. Dalam acara tersebut kita melihat sebuah dekorasi panggung hiburan yang begitu megah dengan diisi oleh para selebriti terkenal. Dengan gaya seorang manusia modern di abad ini mereka menampilkan suatu hiburan yang jarang sekali terjadi pada masa pertama kali Kebangkitan Nasional berdiri di negeri ini. Yang menjadi pertanyaan kita sekarang, acara seperti di stasiun televisi itukah yang dinamakan Kebangkitan Nasional ?
Hari ini memang berbeda dengan hari di mana para pahlawan negeri ini berjuang, tetapi dengan ijin Allah SWT hari ini merupakan salah satu jerih payah para pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Kita mungkin masih ingat bagaimana sejarah mengungkap perjuangan para pahlawan negeri ini dalam membangkitkan jiwa bangsa ini. Mereka bahu membahu membangun negeri ini tanpa memandang status sosial apa yang akan didapatkan setelah melakukan perjuangan membangun negeri ini.
Hari ini kita harus renungkan kembali makna dari sebuah Kebangkitan Nasional yang selama ini kita peringati, karena pada saat ini kita menyaksikan suatu keadaan yang sangat bertolak belakang dengan Kebangkitan Nasional. Bagaimana tidak ? saat ini kita saksikan sebagian masyarakat bangsa ini terus berlomba memperkaya diri sendiri tanpa menghiraukan keadaan di sekitarnya. Kita bisa melihat bagaimana sebagian golongan masyarakat bepergian keluar negeri hanya untuk berbelanja ataupun bertamasya. Yang lebih ironis lagi menurut pakar komunikasi Dedy Mulyana dalam bukunya Islam Itu Indah bangsa kita saat ini mengalami gejala narsisme, yaitu suatu kecintaan pada diri sendiri yang berlebihan.
Dengan dalih beribadah ke Tanah Suci kita saksikan bagaimana para pejabat ataupun golongan ekonomi atas negeri ini berbelanja di pasar-pasar yang ada di Saudi Arabia. Memang sah-sah saja mereka pergi untuk Umrah ataupun hal lainnya, tetapi pernahkah kita memperhatikan bagaimana sebagian masyarakat kita masih banyak yang kesulitan untuk mendapatkan sebuah pendidikan ataupun kesehatan yang layak di negeri ini.
Dan saat ini kita saksikan di media televisi semakin hari acara yang membawa muatan pendidikan semakin menipis dan mungkin akan hilang seandainya kita tidak perjuangkan. Justru acara-acara hiburan dari semenjak kita bangun sampai kita tidurpun selalu siap sedia. Ini menandakan kepada kita bahwa masyarakat negeri ini sudah terhinggapi budaya Hedonisme Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi budaya ini telah hinggap pada masyarakat golongan bawah.
Menurut Masaru Emoto dalam bukunya The True Power of Water bahwa manusia akan terpengaruh oleh situasi yang dilihat ataupun dirasakannya, karena manusia terdiri dari 70 % merupakan air. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitiannya tentang air yang terpengaruh oleh suatu tayangan televisi. Berdasarkan hal ini bagaimana generasi bangsa ini akan berkompetensi dengan bangsa lain, seandainya generasi saat ini dibuai oleh acara-acara hiburan yang jauh dari realita kehidupan, padahal di negeri Amerika yang konon katanya pusatnya hiburan, menurut media massa sekarang ini anak-anaknya dibatasi dalam menonton acara-acara hiburan ataupun tayangan yang tak layak di konsumsi oleh anak-anak.
Kita mungkin masih ingat peristiwa di daerah Bojongsoang tentang terbunuhnya seorang ayah oleh anaknya yang depresi karena tidak lulus dalam tes masuk lembaga Kepolisian, atau kita sering mendengar kabar di media massa tentang rumah sakit jiwa yang mengabarkan semakin banyaknya para pemuda ataupun orang tua yang mengalami depresi berat yang menyebabkan kegilaan serta berita tentang semakin banyaknya perilaku seks bebas dikalangan anak sekolah dan berita lainnya yang memberitakan hancurnya moralitas negeri ini. Semua peristiwa ini menjadi bahan renungan bagi kita betulkah bahwa Bangsa kita telah bangkit secara Nasional ?
Mari kita tafakuri bersama firman Allah SWT dalam surat a’raf ayat 96 yang artinya : “ Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan , maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan “ (Al- A’raf, 7:96)
Di dalam ayat tersebut Allah SWT menegaskan kepada kita akan janji-Nya bahwa jika suatu negeri beriman dan bertakwa maka akan Kami bukakan keberkahan dari langit dan bumi, para Ulama mendefinisikan Berkah dengan arti bertambahnya kebaikan. Dan saat ini kita saksikan bagaimana berbagai bencana menimpa negeri ini, mulai dari darat, lautan ataupun udara seperti Tsunami, lumpur Sidoarjo, gempa bumi di Yogya, jatuhnya pesawat dan berbagai bencana lain yang begitu banyak.
Disini tidak akan membahas lebih jauh mengenai tafsiran ayat tersebut, tetapi dengan ayat tersebut semestinya kita patut merenung akan kesalahan negeri kita saat ini. Dalam hal ketauhidan saja, sepertinya banyak kesalahan yang sering kita lakukan terhadap generasi kita, pantas saja jika saat ini banyak generasi kita merasa putus asa atau depresi karena tidak dapat menggapai cita-citanya.
Mari kita simak sebuah dialog antara seorang ayah atau ibu terhadap anaknya yang masih kecil, sang ayah berkata : “ Nak jika sudah besar mau jadi apa ?”, lantas dengan lantangnya seorang anak berkata : “ aku pingin jadi dokter atau polisi “ mendengar kata itu sang ayahpun merasa gembira. Dari dialog sederhana tersebut sepertinya biasa-biasa saja, padahal ada sesuatu yang sangat penting yang terlupakan pada saat itu, apakah itu ?.
Kita pada saat itu lupa mengajarkan suatu nilai akidah yang sangat berguna bagi si anak tatkala di beranjak dewasa. Suatu kata yang sangat sederhana, yaitu “ Insya Allah “. Ada apa dengan kata Insya Allah?, Ya kata sederhana yang mengandung muatan akidah yang sangat mendalam. Kita sadar bahwa besok atau masa depan tidak ada yang mengetahui kecuali Allah, dalam kata tersebut mengajarkan kepada kita tentang penyerahan diri kepada Allah sepenuhnya setelah kita berusaha, sehingga tatkala kita tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan kita kembalikan kepada Allah dan meminta ganti yang lebih baik atau tatkala kita mendapatkan apa yang kita inginkan tidak membuat kita menjadi takabur karena segala sesuatu terjadi atas ijin Allah.
Semua pelajaran ini pernah dialami oleh Rasulullah SAW, seperti yang termuat dalam firman Allah SWT surat al-Kahfi ayat 23-24 yang artinya : “ Dan janganlah sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “aku pasti melakukan itu besok pagi “ kecuali dengan mengatakan Insya Allah…”
Asbabul Nuzul ayat tersebut berkenaan pada waktu itu suku Quraisy bertanya kepada Rasul tentang ruh dan Rasul menjawab datanglah besok pagi maka aku akan menjawabnya, Rasul lupa pada waktu itu tidak mengucapkan “Insya Allah”, sehingga tatkala besok harinya wahyu tentang ruh tidak turun-turun, dan pada saat itulah surat al-Kahfi ayat 23 tersebut turun sebagai pelajaran bagi Rasul. Dari penjelasan tersebut kita bisa mengambil sebuah pelajaran yang sangat berharga, yaitu sebuah ketawakalan pada Allah SWT yang akan membawa ketentraman pada orang-orang yang beriman.
Berdasarkan penjelasan di atas dapatlah kita menarik sebuah kesimpulan bahwa Bangsa ini mengalami suatu krisis akidah atau keyakinan dan yang lebih luasnya masyarakat kita mengalami krisis prinsip hidup, sehingga suatu Kebangkitan Nasional diukur dengan gemerlapnya hiburan atau unsur materi yang hanya dinikmati dalam waktu yang sekejap. Belum lagi masalah ketidak jelasan hukum di negeri ini sehingga seorang pimpinan salah satu majalah porno bisa bebas dengan alasan suatu kebebasan undang-undang pers. Padahal kita tahu bahwa pakar Sosiologi berpendapat bahwa salah satu penyebab perilaku menyimpang adalah suatu keadaan dimana tidak ada aturan yang tegas yang berlaku di lingkungan tersebut (Anomie). Bagaimanakah nasib generasi kita seandainya keadaan ini terus berlanjut di Negeri ini?
Akhir kata marilah kita renungkan firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 9 yang artinya :” Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah (lemah Akidah, Akal, atupun fisik) di belakang mereka. Dan bertakwalah kepada Allah SWT dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar “ (An-Nisa, 4:9)





Penulis : Staf Pengajar SMAN 1 Batujajar

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Pendapat saya mengenai kebangkitan nasional di masa sekarang adalah:
Kebangkitan nasional didasari dari adanya ikrar sumpah pemuda, ikrar ini adalah merupakan suatu komitmen pemuda-pemudi dijaman penajajahan dahulu untuk bersatu dan berjuang melawan penjajahan serta memperjuang kemerdekaan.
Sedangkan di masa sekarang ini pemuda-pemudi sudah tidak memiliki komitmen untuk berjuang membangun bangsa. Perayaan-perayaan yang diadakan untuk menyambut hari kebangkitan nasional hanya untuk memperlihatkan simbolisme perjuangan saja. Apalah artinya suatu simbol apabila tidak dipahami dan dilaksanakan makna dari simbol tersebut.
Yang di perlukan sekarang adalah komitmen dari setiap individu (pemuda-pemudi penerus generasi bangsa) untuk bangkit dari keterpurukan idealisme dan memperjuangan nilai-nilai kemerdekaan.
Banyak sekali pemuda-pemudi (sarjana) sekarang berbondong-bondong memilih untuk menjadi pegawai negeri, berbagai macam alasan yang mereka kemukakan; agar dapat pensiun, kerjanya tidak capai, gampang cari uang dll. Itulah salah satu contoh terpuruknya idealisme pemuda-pemudi sekarang, mereka tidak mau berjuang untuk membangun negeri ini dengan menciptakan lapangan pekerjaan sehingga bisa menyerap tenaga-tenaga kerja untuk mengurangi pengangguran, memperbaiki perekonomian rakyat, membangun desa-desa terpencil, sehingga kita tidak lagi terjajah secara ekonomi.
Masa di negara yang kaya akan sumber daya alam ini (minyak dan gas bumi) sulit akan minyak tanah, gas yang mahal, air harus beli. Kondisi ini tentunya tidak selaras dengan cita-cita luhur dari para pendiri bangsa.

anggajohn mengatakan...

pak artikelnya bagus..
liat dong artikel saya di muhammad-angga-jhonatang.blogspot.com
bagus atau engga soalnya saya jadi suka menulis tapi ga ada media tuk menyalurkannya..
dari mantan muriid bapak anak ips 3 alumni 2009